Asisten Pribadiku Pemuas Nafsuku
Asisten Pribadiku Pemuas Nafsuku

Asisten Pribadiku Pemuas Nafsuku

Asisten Pribadiku Pemuas Nafsuku

Asisten Pribadiku Pemuas NafsukuAsisten Pribadiku Pemuas Nafsuku Hubungan Panas – Perkenalkan namaku Reza. Aku begelut di dunia usaha sejak mulai aku duduk di bangku SMA hingga belum lama ini aku menyandang gelar sebagai sarjana. Tidak semua usaha bisa bejalan dengan mulus, gonta ganti bidang usaha sudah aku alami. Aku bahkan juga hafal sifat dan karakter karyawan/ti tapi maaf, bukan bermaksud untuk sombong. Disaat sebayaku sedang merintis karir dari bawah, aku sudah punya asisten pribadi yang mengelola beberapa bidang usaha yang kumiliki.

Namanya mbak Dewi. Ibu dari dua anak,anak yang paling besar duduk di kelas 5 SD sedangkan anaknya yang kecil masih kelas 2 SD. Suaminya bekerja sebagai pegawai honorer di salah satu instansi pemerintah sekaligus menjadi penjaga losmen pada malam harinya. Mbak Dewi berusia 30 tahun, wanita yang dibesarkan dari keluarga menengah dan religius.

Terlihat dari jilbab yang selalu dipakainya dan juga tutur katanya yang santun. Selain berparas manis, baju lengan panjang dan celana kain yang biasa ia kenakan seakan mencetak lekukan tubuh langsingnya, apalagi saat mengenakan celana warna cerah membuat garis CDnya tampak tergambar bongkahan pantatnya yang kecil namun padat dan kencang itu. Sering mbak Dewi kujadikan fantasi sexku saat aku melakukan onani.

Dilihat dari kacamata batinku, sosok mbak Dewi sungguh mirip dengan artis ‘Sarah Vi’ artis era 90-an yang namanya meroket sejak membintangi sinetron “Inem Pelayan Sexy” meski menurutku mbak Dewi lebih tirus atau langsing. “Aaahhh…Andai mbak Dewi belum bersuami…”. Bahkan ibuku pun tampak menyayangi mbak Dewi. Keduanya memang sudah saling mengenal saat ibu masih sesekali membantu usaha warung makan yang dulu kurintis hingga kini sudah menambah katering, persewaan tenda dan sound system, pangkalan gas LPG dan masih dalam proses menjadi agen resmi minuman kemasan ternama.

Semua kejadian terjadi tanpa sengaja. Aku yang sedang sibuk sibuknya menyelesaikan kuliahku sedangkan ibuku yang janda dan sudah pensiun dari mengajar diminta untuk tinggal di luar kota bersama kakak perempuanku dan suaminya. Selain dekat dengan anak, menantu dan cucunya, memang itu lebih baik untuk Ibu daripada hanya hidup berdua denganku yang lebih sering sendiri di rumah karena kutinggal dengan segala kesibukanku.

Otomatis warung makan yang aku kelola pun terbengkalai dan kuputuskan tutup sampai dengan waktu yang belum kutentukan. Dilain sisi mbak Dewi masih berusaha mempertahankan penghidupannya, ia mengusulkan untuk menambah karyawan dan ia juga bersedia untuk mengelola dengan tanggung jawab penuh. Mendengar usul dari mbak Dewi aku hanya terdiam, tidak menghiraukan atau mengabulkannya hingga raut wajah mbak Dewi yang bisanya berseri berubah murung saat kuungkapkan niatku.

Kulihat seharian mbak Dewi lebih banyak diam dan termenung di dapur sambil membersihkan peralatan masak yang ada di dapur sebagai tugas terahkirnya. Sebenarnya aku tak tega melihatnya. Perlahan kututup pintu depan warung, kuhampiri mbak Dewi dan kusodrkan uang sejumlah dua juta rupiah padanya, mbak Dewi  terdiam kemudian menatapku. Matanya mulai berkaca-kaca dan air mata mulai menetes dari sudut matanya yang indah.

“Mbak Dewi, ini tolong diterima ya” ucapku sambil menyodorkan uang.

“Apa ini mas?” tanyanya diiringi isak tangis.

Ruang dapur yang biasanya dihiasi tawa, kini berubah, apalagi suasana haru saat itu justru menambah kedekatan hati kami.

“Ini gaji terakhir mbak Dewi ditambah sedikit sebagai ucapan terima kasih saya pada mbak Dewi…” ucapku kepadanya.

“Ta…tapi mas…” jawabnya terbatu bata.

Aku tak menjawab namun kuberanikan diri untuh meraih tangan kanannya dan menyerahkan uang itu. Mbak Dewi beranjak dari duduknya kemudian berlutut dihadapanku, ia memeluk kedua kakiku dengan erat.

“Mas, ijinkan saya tetap bekerja dengan mas Reza, saya berjanji akan bekerja dengan sungguh sungguh mas…” kata mbak Dewi memohon kepadaku.

Mbak Dewi merupalan tulang punggung keluarga. Gaji suaminya dari instansi ditambah upah sebagai penjaga losmen pun tak seberapa jika dibandingkan dengan gaji mbak Dewi disini. Terlebih kebutuhan anaknya yang semakin besar, belum lagi dengan usia mbak Dewi tentu akan sulit dalam mencari pekerjaan baru.

Aku memasukan kembali uanga itu ke dalam saku celanaku, kemudian kuraih kedua lengannya, kuangkat tubuh mbak Dewi sehingga kami sama-sama berdiri.

“Sebetulnya Reza juga sayang sama mbak Dewi ga mau mbak Dewi pergi…mbak Dewi sudah kuanggap seperti kakakku sendiri…makasih ya mbak …” ucapku.

Mbak Dewi hanya tertunduk dan terdiam.

“Kog diam mbak, kata kata Reza ada yang salah ya?” tanyaku.

Mbak Dewi masih saja terdiam saat itu. Hingga tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.

“Terus kenapa mbak Dewi terdiam dan masih sedih?” tanyaku lagi. Suasana yang melow mulai membuatku melontarkan kata-kata yang bodoh saat itu.

“Kalo mas Reza sayang sama saya kenapa saya disuruh pergi dari sini?” tanyanya balik. Pertanyaan skak mat dari mbak Dewi membuatku meringis menyadari kebodohanku.

Sudah kepalang basah, entah baik atau jelek ahkirnya kuberanikan diri untuk bertanya pada mbak Dewi.

“Apakah mbak Dewi juga sayang sama Reza?” tanyaku lagi. Mbak Dewi tak menjawabnya, ia mengangkat kepalanya sebentar menatapku kemudian tertunduk kembali.

“Kog ga dijawab mbak?” tanyaku. Semula rasa haru yang memenuhi suasana itu perlahan berubah menjadi nafsu dengan keadaan itu.

“Percuma juga kalo dijawab mas, toh bagaimanapun mbak juga harus pergi, walopun mbak senang dan betah kerja disini sama mas Reza, mas Reza baik dan ga pernah marah …” katanya.

“Kalo aku masih mau mbak Dewi tetep disini…?” ucapku. Kupasang senyumku sambil menunggu jawaban dari mbak Dewi.

“Yang bener mas?” tanyanya seolah tak percaya. Ia mengangkat kepalanya seiring pancaran manis wajahnya kembali tergambar. Sambil tak sadar ia memegangi kedua pergelanganku. Perlahan kulepaskan gengaman tangannya dan mengambil posisi memeluknya. Mbak Dewi tak memberikan respon, malahan posisinya sedikit ditarik ke belakang.

 

CERITA LAINNYA
Menyetubuhi Seorang Asisten Dosen

 

“ya sudah, kalo gitu memang lebih baik usaha ini ditutup saja” kataku kecewa. Aku memalingkan tubuhku seketika, mbak Dewi berusaha meraih lenganku.

“Maaf mas Reza, bukan maksduku membuat mas Reza kecewa, tapi mbak kan sudah bersuami dan mas Reza tau akan hal itu…” katanya.

“Iya Reza tau kog mbak, tapi Reza benar benar sayang sama mbak Dewi dan ga peduli dengan suamimu mbak” ucapku kepadanya.

“Sekarang terserah mbak Dewi, mbak boleh pulang sekarang juga dan besuk ga perlu datang lagi kesini atau…?” kataku memberi pilihan pada mbak Dewi.

Aku membalikan badan dan kami kembali saling berhadapan.

“Atau mbak mau menerima cintaku dan tetap disini …?” jawabku.

Tanpa menunggu jawaban darinya, kudekatkan wajahku dan melayangkan ciumanku ke wajahnya. Mbak Dewi masih berusaha menghindar meski tak ada kata penolakan darinya. Ciuman yang kutujukan ke bibirnya meleset mengenai pelipisnya. Aroma hijab yang khas saat itu semakin menambah gejolak nafsu birahiku padanya. Kuangkat wajahnya dan kulayangkan ciumanku ke bibirnya, meski memang tak ada penolakan namun kulihat matanya terpejam erat dan bibirnya dikunci rapat hampir saja membuat emosiku terbakar.

Aku tak boleh gegabah, aku mencoba untuk mengendalikan emosiku dengan menarik nafas, kucium keningnya, pipinya, sambil kuusap perlahan punggungnya …

“Maafkan Reza ya mbak…” bisikku kepada Mbak Dewi.

Kujilati pipinya, pelipisnya, dagunya hingga tepian bibirnya yang mungil sampai akhirnya bibir mbak Dewi perlahan terbuka meski matanya masih tertutup. Kuhisap perlahan bibir atasnya, berganti bibir bawahnya dan mbak Dewi pun mulai membalas dengan pagutannya .

Kira-kira hampir setengah jam kami saling berpagutan, sambil kuremas-remas bongkahan pantatnya yang kecil namun kencang itu. Terlebih celana kain tipis yang dikenakannya justru memberikan sensasi kepada kami berdua hingga tak sadar tangan mbak Dewi sudah menelusup masuk ke dalam celana pendekku, mencoba meraih batang kontolku yang sudah tegang saat itu. Mbak Dewi sudah terlena dengan permainan kami. Dengan cekatan jemari mbak Dewi berhasil melepas kancing celana pendekku, menurunkan restlitingnya hingga batang kontolku menjulang tegak dalam gengamannya.

Perlahan mbak Dewi  membelai kontolku sesekali mengocoknya perlahan. Aku pun tak tinggal diam, kubuka satu persatu kancing bajunya sehingga terlihat payudaranya yang masih tertutup bra ukuran 34A itu. Kutarik mbak Dewi ke ruang belakang, tempatku biasa tidur siang dan juga tempatnya beribadah.

Wajah mbak Dewi tampak tersipu malu saat di dalam ruangan itu kulucuti semua pakaiannya hingga kami berdua sudah sama-sama telanjang. Kurebahkan badannya diatas kasur busa yang biasa aku gunakan untuk tidur. Kutindih badannya dan kembali kujilati seluruh tubuhnya. Tak terkecuali puting susunya yang sudah sangat mengeras menghiasi kedua payudaranya.

“Ssstthhh…aaahhh…” desahnya menahan rasa nikmat yang aku berikan lewat jilatanku hingga kemudian ia mendorong tubuhku dan berbalik menindihku.

Serangan balasan dilakukannya mulai dari leherku, bahkan kedua putingku pun tak luput dari isapan dan jilatan bibir mungilnya. Lidahnya lincah menjilatin mengitari kedua bola kembarku. Menjilati batang kontolku dan kemudian memasukan ke dalam mulutnya. Batang kontolku dikocok dengan menggunakan mulutnya. Itu dilakukannya selama 10 menit. Aku hanya bisa mendesah menahan nikmat permainan mulut mbak Dewi di batang kontolku.

“Sssthh…aarrgghh…enak sekali mbak…” desahku.

“Ooohhh mbak aku mau keluaaarr mbaaakkk….aaahhh…” rancauku.

Kontolku pun berkedut di dalam mulutnya. Seketika cairan kental spremaku menyembur di dalam rongga mulutnya yang hangat. Mbak Dewi tak bergeming dan terus saja menghisap sampai peju yang dimulutnya pun berceceran. Tak berapa lama batang kontolku pun mulai tenang meski tetap dalam kondisi tegang. Mbak Dewi pun mengurangi tempo hisapannya dan kemudian melepas kontolku dari mulutnya. Ia tersenyum nakal ke arahku dan kemudian dengan telaten membersihkan sisa peju yang tercecer diperutku dengan lidahnya.

Mbak Dewi kembali menggodaku. Memainkan kontolku dan kemudian menegakkan tubuhnya sambil menggulung rambutnya dengan kedua tangan. Entah itu dilakukan karena merasa risih dengan rambutnya yang tergerai sebahu atau memang sengaja ingin menggodaku.

“Wooww seksi sekali kamu mbak…” teriakan hatiku yang memicu kontolku kembali berkedut seolah masih bergejolak mencari kenikmatan.

Aku tak kuasa menahan nafsuku yang mulai bangkit kembali. Kutarik tubuhnya hingga sekarang posisinya seolah duduk bersimpuh diatas perutku. Kuremas perlahan pantatnya, kumainkan telunjukku di lubang anusnya sampai tubuhnya menggeliat. Kemudian dia meraih kontolku dan memasukannya perlahan ke memeknya yang ditumbuhi bulu lebat.

“Sleeeppp…” seiring kontolku menelusup perlahan di MEMEKnya Mbak Dewi.

kedua paha kecilnya seakan sangat kuat mengangkat tubuhnya dalam posisi bersimpuh. Tak selang berapa lama, ia merubah posisi menjadi berjongkok. lubang memeknya tampak mengkilat dan menganga, sesaat kemudian ia membimbing batang kontolku untuk kembali menelusup di dalam lubang memeknya. Kedua telapak tangannya bersandar pada perutku seiring gerakan “upside down” yang dilakukannya.

Mungkin karena posisi itu cukup menguras energi, ia pun berebahkan dirinya di atas tubuhku. Batang kontolku semakin menyusup ke dalam memeknya seiring dengan gerakan pinggulnya yang semakin cepat hingga tubuh kami pun sama-sama kaku saat lahar panasku menyembur. Kulihat kedua bola matanya naik keatas seolah merasakan sesuatu yang amat dahsyat.

Rasa lelah bercampur nikmat membuat kami berdua masih terhanyut hingga kami masih saling berpelukan dan tertidur.

“Mas Reza…bangun mas…” katanya membangunkanku.

Aku mencoba membuka mata meski tubuhku masih terasa capek dan sangat lemas.

“Ayo bangun mas … Sudah sore …” katanya lagi.

“Ha…” jawabku setengah kaget. Mbak Dewi tersenyum padaku. Kulihat di alroji swiss armyku menunjukkan pukul setengah 5 sore. Jam biasanya mbak Dewi memang bersiap pulang menunggu jemputan.

“Kopinya dimeja ya mas … Oya besok apakah saya masih boleh datang mas?” tanyanya kepadaku dengan nada lembut.

“Iya makasih mbak… tentu boleh donk mbak…tapi sebentar mbak…” kataku. Aku mengambil dua lembar uang seratus ribuan dan kuberikan pada mbak Dewi.

“Uang apa ini mas?” tanya mbak Dewi terheran heran.

“Buat beli oleh-oleh anak-anak mbak Dewi” jawabku.

“Beneran ini mas?” katanya dengan wajah senang.

“Iya mbak…”

“Makasih ya mas…”

“Tapi ini dulu donk…” kataku sambil kuletakkan jari telunjukku di bibirku dan mbak Dewi pun paham dengan kode yang kuberikan.

Kami berdua lantas berciuman sejenak sebelum kemudian ia berlalu keluar menemui suaminya yang sudah menunggunya di luar.

TAMAT

HUBUNGAN PANAS

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *