NGENTOT PEMBANTU ADIKKU DI TOILET
NGENTOT PEMBANTU ADIKKU DI TOILET Hubungan Panas – Saat itu aku sedang diminta menjaga rumah adikku, karena keluarganya akan pergi hingga sore dan Sasa tinggal di rumah, karena perutnya yang kurang baik. Sebelum kepergian keluarga adikku, aku sudah sampai di rumahnya.
“Mas..Sasa di rumah ya, perutnya lagi gak beres. “, adikku memberi tahu. “Oo..ya ya gak papa“, jawabku. Tak kelang berapa lama mereka berangkat. Aku bergegas masukkan motor ke dalam rumah. Sasa lalu mengunci pagar, Aku masuk rumah lalu buru buru duduk di depan komputer, browsing, karena suami adikku memasang Wi-fi untuk mendukung pekerjaannya di rumah. Mengecek email; cari info ini itu dan..tentunya get into DS..hehe. 10menit kemudian Sasa menyuguhkan segelas es teh untukku.
“Makasih ya Sa“, ucapku. “Iya Pak..silakan diminum pak“, kata Sasa. Pembantu adikku memang diwajibkan memanggil “Pak“ pada saudara – saudara majikannya, padahal terdengar sedikit asing di telingaku sih.
Sasa lalu kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya, “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau agak mendung. Sasa kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan punya anak adikku. Posisi meja komputer dan mainan yang bertebaran di lantai tidak terlalu jauh. Semula aku belum ngeh akan hal itu. Semula mataku menatap layar komputer di situs DS. Saat Sasa mulai memasukkan kembali mainan itu ke keranjang, baru aku menyadarinya.
Sesekali aku meliriknya. “Sedikit putih ternyata anak ini. Bodynya biasa aja sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini gara – gara masuk situs DS jadi mikir macem – macem..haha“, pikiranku berkata . Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Sasa bersimpuh di lantai merapikan mainan ke keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang terbungkus BH warna biru. Sasa jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap sebagian keindahan tubuhnya.
“Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. tanpa kusadari kontolku mulai membesar, “Langusng dong Ke kamar mandi mbetulin posisi kontol ini..sambil kencing“. Komputer kutinggal dengan layar bergambar Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi. Aku lalu masuk kamar mandi, membuka jins dan cd lalu mengeluarkan kontolku. Agak susah juga kencing dengan kontol yang sedikit tegang. “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut. “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, ucapku.
Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer, melanjutkan bongkar DS. “Cari cemilan di meja makan ah..jadi lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan nge net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kuoles mentega dan selai kacang dan diatasnya kulapis dengan selai blueberry, “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat.
Letak meja makan dengan kamar pembantu hanya 3meter. Kulihat dengan ujung mata, Sasa sedang di kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan olesan roti, aku kembali ke ruang keluarga yang melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Sasa bertatapan mata, tidak ada sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil main DS lagi.
Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Sasa sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi. “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. Hanya kebetulan aku belum minum air putih, walau telah ada es teh. Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada air yang mengucur dari dispenser.
Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang aneh di sana. ”Lah..pintunya kok sedikit buka. Sasa lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”. Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya baru aku ngeh..Sasa sedang mandi.
”Duhh..kesempatan langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat bin masalah. Berlagak gak liat aja ahh” ucapku dalam hati. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi Sasa. Tiba – tiba ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana. ”Hehe..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.
”Pak..Pak”, Sasa memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”. ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan kalimatnya.
Sejak Sasa bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi. ”Atau..Bapak yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya. Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak masuk aja..nggak papa.
Nggak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Ssasa tahu keraguanku. ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin bisa bahaya”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah lagi”, Sasa kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”.Aku menaruh gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu.
Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Sa”, masih ragu diriku. ”Masuk aja Pak”, Sasa tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka lebih lagi oleh Sasa.
Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk. Sasa berdiri di balik pintu dengan menutupi bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat paha pundak dan daging payudaranya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua. Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian payudaranya, warna biru, yang disangga tangan kirinya.
Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak. ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3 langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.
”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”. ”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Sasa tersenyum. ”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar Sasa. ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”. ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh Sasa.
Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun, ”Maaf Pak..ini sabunnya”. Sasa mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami mau tidak mau bersentuhan. ”Makasih ya”, ujarku.
Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya. ”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Sasa. ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”. ”Iya..nanti di rumah”. ”Nggak di sini saja Pak?”. ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”. ”Di kamar mandi ini saja Pak..”. ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”. ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah nolongin saya”. Matanya memohon. Deenngg, sebuah lonceng menggema di kepala.
”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku. ”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya Pak..di sini saja”, dia memahami kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.
Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain, Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di meja makan. Posisi Sasa masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap agak terbuka.
Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan ratok di cantolan yang menempel di tembok. ”Pintunya nggak ditutup aja Sa?”, tanyaku. Pertanyaanku sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi. “Nggak usah Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Sasa.
Lalu kubuka jinsku, kugantung pula. Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd – ku. “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Kontolku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya.
Sengaja kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata Sasa sedikit membesar. kugantungkan juga cd – ku. Lalu dengan tenang Sasa menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang kontol sambil kuelus.
Sasa lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, kontolku makin mengembang dan itu jelas dilihat Sasa. Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. Sasa lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur.
“Bapak saya mandiin dulu ya”, kata Sasa. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum. Sasa lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak.
Mengambil lagi segayung, diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher; pundak; dada dan tangan kananku.
Dibasahinya sabun dengan diguyur air lalu digosokkan ke tangan kiri perut kontol bola bolaku. “Uhh..gimana bisa nahan kontolku nggak ngembang”. Bagaimana tidak, saat menggosok kontolku dan bola bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya lagi segayng air, sabun di basahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu di gosoknya.
Sabun kemudian di letakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa kontolku di bersihkan dari sisa sabun. Sedikit diremas oleh Sasa. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya,”biar Sasa yang pegang kendali”.
“Balik badan pak” perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Di gosoknya punggungku,Kontolku, lali paha dan kaki sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok kontolku dan biji pelerku dan meremasnya. “Duh…. ni akan. Bikin nafsu… sengaja membuat pana aku”.
Kembali ari mengguyur tubuh belakangku, sebanyak tiga kali. Dibalikkan badanku lalu mengguyur senjataku, digosok hingga sedikit memerah. Jantungku makin berdebar.
“Sudah selesai pak” kata Sasa. “Makasih ya Sa” lalu dia menjawab “emm… kamu mau tak mandiin juga?” kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti dia tadi. “nngg….nggak usah pak… ngerepotin Bapak” lalu ku jawab “ya enggak lah… jadi imbang kan”. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh depannya. Ia hanya menatapku,Kuambil lagi segayung lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan ku basahi.
Kugosok leher, pundak, dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugsokkan ke payudaranya dan kedua pentilnya, serta perutnya. Kutatap matanya saat ku gosok kedua payudaranya yang kuiankan sedikit putingnya. Sasa jugak menatapku, matanya mulai sedikit sayu. Satu menitan kumainkan putingnya, lalu sedikit kuremas payudara kirinya. Bibirnya sedikir membuat huruf O kecil dan “Ohh..hmm”.
Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang, paha dan kedua kakinya. Memeknya luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itu pun sudah cukup membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan ke tubuh dua sampai tiga kali.
Kugosok dan kuremas sedikit keras dua payudaranya. Sedikit berguncang dua tangan Sasa memegang pinggiran bak mandi, mulai erat kumainkan lagi putingnya
Aku merundukkan badan dan kukecup puting payudaranya bergantian. Tak perlu lagi ijin darinya. tangan kiriku mengusap lembut luar memeknya. “Ouuhhhh pakkk..” Sasa mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut “nanti di lanjut algi”. Matanya seakan bernada protes, tapi Sasa diam saja. Kuambilkan tubuhnya lalu kuguyur punggunya sekarang. Sabun kugsokkan ke punggunya, pinggang perut. Kubasahi lagi sabun lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi dari pinggang belakangnya. Sasa sedikit menggeliat geli. Kutaruh kedua tanganku di payudaranya.
Aku senang bermain main di payudaranya yang bagus dan masih kencang. Selutuh belakang lehernya aku cium dan kukecup, begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan “Kamu diam aja ya…Cup”. “Geli pak” Sasa mendesah lagi. Kedua payudaranya makin mengencang dan keras. Aku sentil ku putar putar seperti mencari gelombang radio> Dua tangan Sasa mencengeram paha depanku> “Ahhh…mhhhhmmm” erangnya. Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap memek luarnya dengan tangan kanan, sedangkan yang kiri tetap di payudara kanan Sasa.
Pahaku makin di cengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan ciuman di belakang leher dan daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah menghangat dan sedikit basah. “Pppaakkkkk…oooohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat. Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentihkan pada dinding atas memeknya, sedangkan jempol kananku kutekan di lubang kencingnya. “aauuuuhhhhhh ppaaakkk….eemmmmmmppppffff”. Kuku jemari Sasa terasa mengores dua paha depanku. “Kenapa Sasa…hhhhmmmm….kamu sendiri yang mulai kan” bisikku. Tangan kiriku meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada dua kecupan satu masukkan lidah.
Sasa terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian ia menikmatinya. Ganti tangan kananku melakukan hal yang sama. Sasa hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan “nnggg….mmmmmppppfffff…nnnnggggg”. Memek dalamnya makin hangat dan basah. Secara tiba tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya mengadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecup memeknya.
“Jjjaaannngggaannppaakk…jorok…” dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan “ssttt..” Jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.
Kukecup kecil sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kamu. Mataku kuarahkan menatapnya. Sasa agak malu rupanya, tetapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens menyerang memek luar dan dalamnya. “Ssssuuuddaaahhhh pppaaakkk….aaaddduuhhh…ooohhhh” disertai geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan dengan seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalaku.
Cairan memeknuya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali kumasukkan ke memeknya dari belakang lalu kusentuh dan kutekan sedikit ke anusnya. “aaaammppppuuunnnn ppaaakkk….oouuuggggghhh…eeemmmmmppppffffff”
“Suuuudddaaaahhh….oooohhhhhhh” matanya agak memberliak ke atas dan kepalanya serta rambutnya diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap erat Sasa dengan kepalaku di memeknya dan pantanya kuremas. Kepalaku tetap diusap oleh Sasa.
Iamenarik kepalku dan menciumnya ganas. Lambat laun Sasa dapat belajar dariku. Tangan kanannya meremas dan menarik kontolku. “Panjang ya pak” tanya Sasa kepadaku. ” Biasa kok Sa.. pingin ya..” godaku “ahhh bapakk..” jawabnya dengan memainkan biji pelerku. Sasa merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang kontolku dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah mengoral suaminya dulu sebab kontolku hanya dicium dan diremas aja.
” Kamu mau ngemut kontolku Sa kayak ngemut permen lolly? tapi kalok belum pernah ya enggak usah engagk papa kok” Sasa menatapku dan kubelai rambutnya.
Dengan wajah ragu didekatkannya kontolku di bibirnya. Sasa mulai membuka mulutnya, sedikit demi sedikit kontolku memasukin mulutnya. Sasa menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya. “Sekarang kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu. Ya… begitu…ohhh…hhmmm”
Rupanya muridku cepat mengerti penjelasan gurunya. Rambut dan kepanya kubelai dan kuremas “Lali lidahnya kamu puter puter di kepala kontol atau di lubang yang pipis ituuu…yyyaaahhh…sssuuudddaahhhpppiiinnntttaaarrr kamuuuu Saaaaaa”.
Kuangkat kepalanya dari kontolku dan kami berciuman dengan panas. Saling meremas payudara perut dan kemaluan masing masing. Lali kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir bak mandi. Kembali aku bermain di gunung Sasa. Kontolku yang telah panas dan tegang sekali kudekatkan ke memeknya. Kukecup pundak dan leher belakangnya.
Ikan tambutnya aku lepas sehingga dirinya terlihat makin seksi dan cantik kala menggeliat dan tambutnya tergerai ke sana kemati. Aku gesek gesek kontolku di bibir memeknya, sengaja aku mempermainkan tangsangan pada Sasa. “oohhh…pakkk…. mmmaaasssuukkkiinnn…pppaaakkk…” pintanya “kamu mauy burungku kumasukin…hhhmm….”
“Iyyyaaa…ppaakkk….aayyooooo pppaakkkk…” rintihnya makin kencang. Kumasukkan kontolku pelan pelan. “Eeeemmmmppppfff…” erangnya.
Lalu kuhentakkan pelan hingga kontolku terasa menyentuh dinding belakang. “ooohhhhhhggggg…ppaaakkk…mentok pppaaakkk….”. Aku menggerakkan tubuhku pelan pelan, kunikmati jepitan dinding yang masih kuat, tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di memeknya dengan hitungan satu dua pelan tiga kuhentakkan dalam dalam. Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas bibirnya. Dinding memek Sasa makin hangat dan banjir sepertinya. Dua tangannya mecengkram erat pinggir bak mandi.
Sekarang tampa hitungan, kumasuk keluarkan kontolku cepat dan kuat “oohhh…hhhhmmmpppffff…” erang Sasa berulangkali. Sedangkan aku sedikit menggeram dan “ooohhhhggg…hhhhmmmpppfff…memekmu enak Sasa…”. “kkkooonnttoollll bbbaapppaaakkk jjjuuuggaaakk”. Jarak pinggangku dan pantat Sasa makin rapat. Tangan kanan kuusap di memeknya. Dalam kamar mandi hanya ada suara tetes air satu satu serta desah, bunyi beradunya paha dan pantat dan erangan kami.
“pppaaakkkk…sssaaaayyyyaaa mmmaaauuu…ooohhhhh…”.”tttttuuunnngggguuu Sssssaaaaa….aaakkkkuuuu jjuuugggaakkkk…Didalam apa di luat?” tanyaku kepada Sasa.
“Daaaallllaaammmmm aaajjjjaaaa pppaaakkk…..oooobbbaaattttnnnyyaaa mmaaasssiihhh aaaaddddaaa…” jawab Sasa. Mendengar itu serangan makin kufokuskan.
Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua tangan Sasa tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu “uuuhhhhmmmppppffffttt…” Pantatnku diremas kuat kuat.
Bibirnya di lepas dariku dan ” oooouuuhhhhh…” desah Sasa panjang. Lava yang hangat terasa mengalir kontolku yang masih bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya. Kukecup dan kugigit leher belakanya
lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam dalam. Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali kali. “oooohhhhhhhgggggg Ssssaaaaaaa…..hhhhhmmmm…” kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di payudaranya sedang yang kanan di memeknya.
Lama kamu berposisi seperti itu “Makasih ya Saa… kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu” kataku dengan membalikkan badannya dan kucium mesra bebeirnya. Kontolku kumasukkan lagi, masih ingin berlama lama di hangatin memeknya Sasa. “Saya yang terima kasih pak”. Sudah lama saya pingin tapi sama orang enggak kenal kan gak mungkin pak. Burung bapak pas di memeknya saya”. Sasa menjawab dan mencium bibirku pula. “memekmu masih kuat nyengkeramnya… dan panas” kubelai kepalanya, “kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku? Malah aku yang takut kamu laporin”. Sambil mengusap usap punggungnya, “tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer.
Terus waktu bapak kencing tadi kan lupa nutup pintu, keliatan kontol bapak yang agak gede pas keluar dari celana”. “oo gitu… nakal ya kamu. Bener kamu masih nyimpen obatnya?” sambil kucubit pipinya. “Masih kok pak.. sisa yang dulu” jawab Sasa. Makin lama terasa kontolku yang mengecil. Kucium dalam dalam lagi bibirnya, “sekarang… mandi yang beneran”. “heheh…iya pak” Sasa menjawab sambil tersenyum manis. Ia lalu memelukku erat. Aku membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap punggung serta kepalanya.
HUBUNGAN PANAS

