Cewe SMA Primadona
Cewe SMA Primadona

Cewe SMA Primadona

Cewe SMA Primadona

Cewe SMA PrimadonaCewe SMA Primadona Hubungan Panas – kali ini datang dari murid SMA yang agak lain kalau kalian baca ceritanya kali ini, simak ceritanya dan siapkan fantasi kalian saat membaca cerita ini ya guys.

Aku duduk di kelas 3 SMA saat ini. Namaku Jesika, aku sangat terkenal di lingkungan sekolahku, banyak yang kagum akan kecantikanku, apalagi cowok-cowok, yang sering jail ke aku dengan menggoda, aku sih cuek saja, soalnya aku juga senang sih. Aku punya sebuah “circle” di sekolah, Mila dan Siska adalah teman-teman dekatku. Kemanapun aku pergi mereka seperti biasanya selalu ikut.

Tahun ajaran baru Sudah masuk dan kali ini sudah tiba, banyak adik-adik kelas baru yang baru masuk kelas 1. Amel, nama gadis itu, ia baru duduk di kelas 1, tetapi ia sudah terkenal di sekolah ini. Bahkan ia bisa menyaingiku. Memang dia cantik, kuakui dia itu lebih cantik dari aku, kulitnya putih bersih terawat, dengan wajah agak kebule-bulean dan rambut sebahu, tubuhnya juga bagus, sintal, dan sexy. Baru 2 bulan bersekolah, nama Amel sering jadi bahan pembicaraan cowok-cowok kelas 3 di kantin, ada yang naksir berat, bahkan kadang-kadang mereka suka berbagi fantasi seks mereka tentang Amel. Amel tidak seperti aku, ia gadis pendiam yang gak banyak tingkah. Mungkin itu yang membuat kaum cowok tergila-gila padanya.

Semakin hari Amel semakin terkenal aja di sekolah, keegoisanku muncul ketika kini aku bukan lagi jadi bahan pembicaraan cowok-cowok. Kekesalanku pun memuncak kepada Amel, akhirnya aku, Mila dan Siska merencanakan sesuatu, sesuatu untuk Amel. Amel juga anggota cheerleaders sekolah, siang itu aku menjalankan rencanaku, aku bohongi Amel untuk tidak langsung pulang sekolah nantinya, karena akan ada latihan cheers yang mendadak, kataku kepadanya tapi ia menolak, namun dengan segala upaya aku membujuknya sampai ia akhirnya mau.

Sore itu, sekolah sudah sepi, tersisa aku, Mila, Siska, Amel dan 4 orang penjaga sekolah. Aku pun mulai menjalankan rencana ku.

“Kak, sampai kapan Amel mesti nunggu disini?” Tanyanya kepadaku

“Udah tunggu aja, sebentar lagi!!”

Amel mulai kelihatan cemas, ia mulai curiga terhadapku.

“Sudah beres Non” Parjo si penjaga sekolah melapor padaku.

“Oke” jawabku.

Rencana ini sudah kusiapkan dengan matang, sampai aku membayar 4 penjaga sekolah untuk mau bekerja sama denganku, bukan hal yang berat bagiku, aku anak orang kaya.

“Ya udah, ikut gue sekarang!!” perintahku untuk Amel.

Dengan ragu-ragu, Amel mengikuti aku, Siska dan Mila. Kubawa ia ke ruang olahraga sekolah, tempat dimana kita biasa latihan cheerLeonaders.

Amel menangis karena bentakan dari aku, Siska dan Mila, ia terlihat ketakutan, tetapi kami terus menekannya secara psikologis, sampai ia menagis.

“Amel salah apa Kak?” ia menangis terisak-isak.

“Lo baru masuk sekolah 2 bulan aja udah banyak gaya, lo mau nyaingin kita-kita yang senior ini ha? hormatin dong!!” bentakku

“Gak kok Kak, Amel nggak begitu”

“Gak apaan? Gak usah ngebantah deh, Lo mau nyaingin kita-kita kan?!” Siska menambahkan bentakanku.

Setelah selesai membentak-bentak Amel, aku memberi tanda kepada Mila. Tak lama kemudian 4 penjaga sekolah yang sudah kuajak bekerjasama itu masuk ke ruang olahraga, mereka adalah Parjo, Rizal, Amet dan Topan. Dari tadi mereka sudah kusuruh menuggu di luar. Amel saat itu terkejut dan sangat ketakutan.

“He.. he.. he.. ini dia Non Amel yang ngetop itu” Rizal berujar sambil tersenyum menyeringai.

“Cantik banget, sexy lagi..” tambah Parjo.

Amel gemetaran ia terlihat sangat takut.

“Sikat aja tuh!!” perintahku pada 4 pria itu.

“Oke, sip bos!! He.. he.. he..” Parjo menyeringai.

Mila yang dari tadi diam mulai menyiapkan sebuah kamera handycam yang memang bagian dari rencanaku. Topan mencengkram tangan kanan Amel, sementara Amet mencengkram tangan kirinya. Tubuh Amel mereka seret ke atas sebuah meja sekolah. Amel terlihat sangat ketakutan ia pun menangis sambil menjerit-jerit minta tolong.

“Gue duluan ya” Parjo mendekati Amel.

Aku hanya tersenyum melihat keadaan Amel sekarang, aku puas melihat ia ketakutan.

“Mau apa Pak? Tolong saya, ampun Pak?” Amel memohon ampun.

Tapi Parjo sudah tidak perduli lagi dengan permohonan Amel, ia sudah dibakar oleh nafsu. Perlahan Parjo mendaratkan tangannya menyentuh payudara Amel, Amel menjerit ketakutan. Tanpa menghiraukan teriakan Amel, Parjo meremas-remas payudara Amel perlahan-lahan.

“Yang kenceng Jo!!” perintahku.

Parjo mengeraskan cengkramannya di Payudara Amel. Amel berteriak, ia nampak kesakitan, dan aku pun sangat menikmati ekspresi wajah Amel yang kesakitan saat itu. Dipenuhi nafsu yang membara, Parjo membuka seragam SMA Amel kancing demi kancing sampai payudara Amel yang tertutup BH terlihat.

“Gila!! Seksi banget nih tokett, putih banget!!” Kata Parjo sambil tertawa gembira.

Perlahan Parjo menyentuh kulit payudara Amel, Amel pun terlihat gemetaran.

“Tolong jangan Pak!!” sahut Amel memohon.

Seluruh orang di ruangan ini sudah tidak sabar lagi menyuruh Parjo melepaskan penutup payudara Amel itu. Parjo pun akhirnya melepas BH yang menutupi keindahan payudara Amel itu. Aku tergelak menahan ludah, payudara Amel indah sekali, mulus, bersih dengan puting yang merah muda merekah, seksi sekali pikirku.

“Abisin aja Pak!!” Siska meminta Parjo dengan wajah cemburu, ia sepertinya iri pada keindahan payudara Amel.

“Ok Amel sayang, tenang aja ya? Nggak sakit kok, dijamin nikmat deh..” Parjo berseloroh, ia terlihat bernafsu sekali seperti halnya Amet dan Topan yang masih memegangi tangan Amel supaya ia tidak melawan, sementara Rizal berdiri dibelakangku sambil memperhatikan dengan nafsunya.

“Jangan Pak!! ampun Kak!! tolong Amel..” Amel memohon dengan wajah pasrah, namun aku tidak perduli.

Sama sepertiku, Parjo juga tidak perduli dengan permintaan Amel. Parjo mulai memainkan tangannya di payudara Amel, ia mulai meremas perlahan-lahan sambil sesekali mengelus dan menekan-nekan payudara Amel dengan jarinya. Amet dan Topan tidak ketinggalan, mereka menikmati mulusnya kulit lengan Amel dengan mengelusnya dan terkadang mencium dan menjilatinya, aku pun mulai merasa panas.

“Ah.. cukup Pak.. ampun Kak..” Amel mulai mendesah.

Parjo semakin bernafsu, ia memutar-mutar jarinya di sekitar puting payudara Amel, akupun bisa membayangkan apa yang dirasakan Amel ketika bagian sensitifnya dirangsang, ia pasti merasa kenikmatan.

Melihat suasana yang panas itu, Rizal akhirnya turun tangan, pria hitam bertubuh gendut itu maju mendekati Amel. Rizal dan Parjo saling berbagi payudara Amel, kiri dan kanan, dengan nafsu mereka mulai memainkan lidah mereka menyapu kulit payudara Amel dan menjalar dengan liar di sekitar payudara Amel, kadang mereka melakukan hisapan dan gigitan kecil di puting Amel. Amel mendesah sambil ketakutan, terlihat ia baru pertama kali diperlakukan seperti itu. Mila pun beraksi merekam seluruh kejadian yang terjadi di payudara Amel dengan seksama melalui handy cam-nya.

Parrjo menurunkan ciuman dan jilatannya ke perut Amel yang juga indah dan mulus, aku cukup terkejut melihat pusar Amel yang ditindik itu, terlihat seksi. Setelah puas mencium dan menjilati daerah pusar Amel. Parjo berhenti dan menyuruh Rizal yang sedang menikmati payudara Amel berhenti. Parjo lalu mulai menyingkap rok sekolah Amel, sambil mengelus paha Amel. Ia memainkan jarinya menelusuri halusnya paha Amel yang mulus dan putih itu. Tangan Parjo perlahan naik menyentuh selangkangan Amel yang ditutup celana dalam pink itu.

“Jangan Pak!! Ampun!!” Amel memohon pada Parjo. Rizal pun ikut mendekat ke Parjo.

“Wah, Celana dalam Non Amel lucu sekali..” ejek Rizal.

Parjo yang sudah sangat nafsu perlahan membuka celana dalam Amel. Tak berapa lama kemudian, Celana dalam itu sudah terlepas dari tempatnya.

“Wow Non Amel!! Vaginanya indah banget!!” Parjo tampak bersemangat.

Vagina Amel memang terlihat terawat, daerah selangkangannya putih, bersih, dan Amel sepertinya tidak suka dengan rambut-rambut yang tumbuh di sekitar vaginanya, ia membiarkan vaginanya terlihat mulus tanpa rambut sedikitpun. Perlahan tangan Parjo dan Rizal menjelajahi paha, dan sekitar selangkangan Amel. Amel hanya bisa menggeliat kesana kemari menghadapi rangsangan itu.

Tak lama kemudian tangan Parjo dan Rizal, tiba di bagian vital Amel. Dengan nafsu membara, Rizal membuka bibir vaginaa Amel, sementara Parjo memasukkan dua jarinya kedalam liang vaginaa Amel. Perlahan jari tangan Parjo keluar masuk di vaginaa Amel, dan makin lama gerakannya makin cepat. Tubuh Amel nampak menegang, sambil mendongakkan wajahnya, Amel mendesah perlahan.

Parjo dengan pandai memainkan kecepatan jarinya mengobok obok vaginaa Amel, sementara aku dan teman-temanku memperhatikan kejadian itu. Setelah hampir 2 menit jari Parjo menembus liang vaginaa Amel, dari bibir vaginaa Amel kulihat cairan kewanitaan yang keluar, rupanya Amel terangsang.

“Wah Non, terangsang nih? Enak ya? Mau lebih cepat?”

“Jangan Pak, tolong!!” Amel memohon.

Parjo tidak mempedulikan permohonan Amel, Jarinya keluar masuk vaginaa Amel dengan cepat.

“Ahh.. stop Pak!! Tolong..!” Amel kelihatan sangat terangsang, namun ia berusaha melawan hawa nafsunya itu.

“Ahh..!” Amel teriak pelan, sepertinya ia hampir mencapai orgasme sambil menahan kesakitan di lubang vaginanya.

“Payah lo!! Baru segitu aja udah mau orgasme.. cuih.. ” aku meledek Amel, aku membayangkan jika aku dalam posisi Amel, pasti aku akan lebih lama lagi orgasme.

“Dasar perek amatir, baru gitu aja udah mau orgasme!!” Siska ikut mengejek.

Parjo menghentikan jarinya yang mengobok obok vagina Amel, nampaknya ia belum mau Amel mencapai puncaknya. Namun aku sudah tak sabar, dendam di dadaku terus membara ingin mempermalukan Amel. Kutarik jari Parjo keluar dari vaginaa Amel, lalu kudorong tubuhnya menjauhi Amel.

“Lho Non.. saya belum puas nih..” Parjo terlihat bingung.

“Sabar dulu!! Nanti lo dapat giliran lagi!!” bentakku pada Parjo.

Saat kulihat Amel dihadapanku, nafsu dan amarahku membara. Aku tak tahan lagi, kujongkokkan tubuhku hingga wajahku tepat menghadap vagina Amel. Tertampang jelas keindahan vagina Amel di mataku, bibir vaginanya yang memerah karena gesekan jari Parjo dan cairan yang membasahi sekitar selangkangannya membuat aku menahan ludah. Perlahan kudekatkan wajahku ke vagina Amel, dan kucium harum vagina Amel, Ia terlihat sangat merawat daerah vitalnya ini. Dengan penuh nafsu dan dendam, perlahan kubasuh vaginanya dengan lidahku.

Semua yang ada disitu spontan terkejut, dan Silvy terlihat sangat kaget.

“Waduuh.. Non Jesika ternyata juga mau ngerasain vagina Non Amel ya?” Rizal berseloroh meledek.

“Bilang dong Non dari tadi, kalo gini saya malah jadi tambah nafsu nih..” Parjo menimpali.

Aku tak perduli dengan ledekan Parjo dan Rizal, yang kupikirkan hanya satu, aku ingin membuat Amel malu di tanganku.

“Aaah.. Kak.. mau apa Kak? Jangan Kak..” Amel mulai merasa terangsang lagi, perlahan kurasa otot selangkangannya menegang dan berdenyut. Ku jilat vagina Amel dengan jilatan lidahku, dan kujalari daerah selangkangannya dengan ciuman dan jilatan ekostis. Kutelusuri bibir vagina Amel dengan lidahku, sambil kubuka liang vaginanya dengan jariku supaya lidahku dengan leluasa menjalar di daerah sensitifnya.

Tak berapa lama kutemukan klitoris Amel, perlahan kujilat dan kuberi dia hisapan-hisapan kecil dari mulutku. Semua laki-laki yang ada diruangan ini kurasa sangat beruntung menyaksikan dua bunga sekolah ini terlibat aktivitas seksual.

“Ahh.. ah.. ah..” Amel tak sanggup berkata-kata lagi, ia hanya bisa berteriak kecil merasakan rangsangan di klitorisnya. Perlahan tubuh Amel menggelinjang kesana kemari, keringatnya makin deras membasahi tubuh dan seragam sekolah yang di pakeknya. Sampai akhirnya kurasakan vagina Amel memuncratkan cairan-cairan nafsunya yang menggairahkan membasahi mulutku, tanpa kusadari akupun terangsang dan menghirup cairan kewanitaan Amel dalam-dalam.

Hampir 5 menit kunikmati vagina Amel, daerah selangkangannya sudah sangat basah, sama seperti tubuhnya yang sudah dibanjiri keringat. Amel hanya bisa mendesah pasrah sambil menikmati rangsanganku. Tak berapa lama, kurasa otot vaginanya menegang, Amel agak terhentak, lalu kedua tangannya tiba-tiba mencengkram pundakku, ia hampir mencapai puncak. Saat itu pula kuhentikan jilatanku, lalu menarik nafas istirahat. Amel terkulai lemas, tubuhnya tergeletak tak berdaya diatas meja sambil perlahan mencoba mengumpulkan nafas. Parjo, Topan, Amet dan Rizal hanya bisa terpaku menatap aku dan Amel, sementara Siska dan Mila terlihat puas melihat “siksaan”ku terhadap Amel. Aku berdiri setelah istirahat sejenak.

 

CERITA LAINNYA
Terimakasih Untuk Keperawanan Mu

 

“Gilaa!! Non JEsika hebat!! Saya jadi nafsu banget nih lihat cewek lesbian kayak gitu” Topan angkat bicara.

Kutatap Amel yang terkulai lemas dengan pandangan nafsu dan dendam.

Kulebarkan kedua kaki Amel sampai ia mengangkang. Kutarik pinggulnya sampai sisi meja. Kali ini akan aku buat ia orgasme. Kutanggalkan rok sekolahku lalu kulepas celana dalamku. Semua pria yang ada disitu tergelak menahan ludah, menanti kejadian selanjutnya. Kubuka seragam sekolahku karena udara sudah sangat panas, sambil kutanggalkan BH-ku, begitu juga dengan Amel, kubuat ia telanjang bulat.

Posisi kaki Amel yang mengangkang membuat vaginanya melebar, membuka bibir vaginanya, dan itu membuatku terangsang. Kuangkat kaki kiriku keatas meja, lalu kudekatkan selangkanganku ke selangkangan Amel. Posisi tubuhku dan Amel Seperti dua gunting yang berhimpitan pada pangkalnya. Dengan nafsu yang membara kugesekkan vaginaku dengan vagina Amel yang masih terkulai lemas itu.

“Hmm.. aah.. cukup Kak.. aah..” Amel mendesah memohon padaku.

Tanpa perduli dengan perkataan Amel, aku yang sudah dibakar nafsu terus melaju. Sementara Pria-pria yang ada disana mulai mengeluarkan kemaluan mereka kemudian melakukan onani sambil menyaksikan aku dan Amel. Semakin lama semakin kupercepat gesekkan vaginaku, sambil kulihat wajah Amel yang cantik itu dengan nafas memburu, membuatku kian terangsang. Tubuhku dan Amel bergerak seirama, kurasakan keringat mengucur dari tubuhku, serta vaginaku kian basah oleh cairan kewanitaanku yang bercampur dengan cairan kewanitaan Amel. Selama hampir 5 menit kupacu tubuh Amel, dan tiap detik pun kurasakan kenikmatan dan rasa dendam yang terbayar.

Di tengah deru nafasku yang saling memacu dengan nafas Amel, tiba-tiba kumerasa sesosok tubuh besar memelukku dari belakang. Ternyata itu RizaL, pria hitam bertubuh gendut itu sudah telanjang bulat dan memeluk tubuhku sambil memainkan jemarinya di puting payudaraku.

“Saya juga ikutan ya Non Jesika? Habis Non Jes bener-bener hot sih” permintaan Rizal kuturuti tanpa menjawab, sebab jarinya yang memilin puting payudaraku semakin membuat aku berenang dalam lautan kenikmatan.

Kulirik Amel yang menarik nafas terengah-engah dan kulihat tubuhnya mulai menggelinjang merasakan kenikmatan. Kupercepat gerakanku, sambil mencoba untuk mengatur nafas, tiba-tiba sebuah benda kurasa menyentuh pantatku lalu menelusup diantara belahannya. Aku mendengar Rizal melenguh, ternyata benda itu adalah penisnya yang menegang dan berusaha meyodok lubang anusku.

“Non Jesika, saya gak tahan lagi nih..” permintaan Rizal kupenuhi, kubiarkan penisnya masuk ke lubang anusku.

Dengan sedikit hentakan, penis Rizal menerobos masuk anusku. Kurasakan benda itu berukuran besar, memenuhi lubang anusku.

“Aaah.. lobang Non Jesika masih rapet banget nih..” Rizal mencoba menekan pinggulnya untuk memasukkan seluruh batang penisnya. Sambil terus kupacu tubuh Amel, Rizal juga mulai memompa penisnya di lubang anusku. Tak berhenti, Rizal menjelajahi bagian atas tubuhku dengan tangannya.

Kejadian ini berlangsung hampir 7 menit sebelum, Amel berteriak kencang memperoleh puncak kenikmatannya. Tak berapa lama kemudian giliranku dan Rizal yang mencapai orgasme bersamaan, ditandai semburan spermanya di lubang anusku. Aku sangat lelah, tubuhku basah oleh keringat, namun aku sangat puas, puas karena dendamku terbayar dan puas atas kenikmatan yang kuperoleh tadi. Kubiarkan Amel beristirahat selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya “penyiksaan” ini dimulai lagi.

Aku duduk menjauh dari Amel, kali ini kuputuskan menjadi penonton saja. Tongkat komando kini dipegang Siska, ia kini yang memerintah semua yang ada disitu. Parjo, Topan dan Amet mendekati tubuh Amel yang tergeletak tak berdaya. Siska memberi tanda pada Amet yang dijawab dengan anggukan kepalanya. AMet memegang pinggul Amel yang lemas itu kemudian memutar tubuhnya. Posisi Amel kini telungkup dengan memperlihatkan bulatan pantatnya yang padat berisi.

“Nah, Non Amel siap-siap ya!” Amet berujar sambil mengangkat pinggul Amel sampai ia dalam posisi menungging. Amel cuma bisa menunggu siksaan apa lagi yang akan diterimanya dengan pasrah. Meski tubuh Amel tampak lemas, ia masih saja menggairahkan. Seketika saja Amel mendesah pelan, Amet dengan nafsunya meremas bongkahan pantaat Amel sambil mengelusnya.

“Hajar aja!!” perintah Siska.

Setelah mendengar perintah Siska, Amet yang sudah menunggu dari tadi langsung melesakkan penisnya yang menegang itu ke lubang vagina Amel. Wajah Amel terlihat terkejut sambil menahan sakit. Ukuran penis Amet yang besar memaksa masuk ke lubang vagina Amel yang rapat itu. Amel berteriak tiap kali Amet mendorong penisnya masuk.

“v****a Non Amel rapet banget nih, aahh..” Amet berkata sambil mendorong penisnya lagi memasuki vagina Amel.

Setelah seluruh penis Amet masuk dalam lubang vagina Amel, Amet berhenti sejenak, ia membiarkan Amel mengambil nafas sejenak. Namun Amet tidak membiarkan Amel berlama-lama, perlahan-lahan ia mulai memompa penisnya didalam vagina Amel. Gerakan Amet makin cepat, deru nafas Amel dan Amet terdengar keras dibarengi gerakan mereka yang seirama. Sambil terus memompa penisnya, Amet memainkan tangannya menjelajahi pantat dan pinggul Amel yang basah oleh keringat. Sekali lagi Siska memberi tanda, Amet mempercepat lagi gerakannya, membuat tubuh Amel bergerak kian liar. Parjo maju menghampiri Amel, ia berdiri di depan wajahnya. Parjo mengangkat tubuh Amel sampai ia dalam posisi merangkak.

“Aaah.. cukup Pak.. ah..” Amel memohon pada Parjo.

Dengan senyum mengejek Parjo memaksa Amel membuka mulutnya. Dengan nafsu yang membara ia memaksa penisnya masuk ke bibir mungil Amel.

“Ayo isep penis saya Non!! isep!!” Paksa Parjo.

Karena ketakutan, Amel dengan pasrah menerima batangan penis Parjo menembus bibirnya. Besarnya penis Parjo nampak memenuhi seluruh mulut Amel. Tak bisa kubayangkan betapa puasnya Parjo, ketika gadis SMA secantik Amel kini sedang mengulum penisnya.

Dari jauh kulihat Amel menangis, airmata jatuh ke pipinya, ia merasa terhina dan jijik. Dendamku benar-benar terbalas, Amel benar-benar menderita. Dibalik semua itu aku juga merasa kasihan padanya. Parjo mulai memompa penisnya, melakukan gerakan maju mundur dihadapan wajah Amel. Kini mulut dan vagina Amel telah dipompa dua batang penis. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat tubuh Amel terlihat berkilau seksi. Hanya Topan saja yang belum menikmati Anel, kini ia naik keatas meja, lalu memposisikan dirinya diatas punggung Amel seolah-olah ia sedang menaiki kuda. Topan meletakkan penisnya diatas punggung Amel, sambil kemudian ia gesekkan. Tangan Topan menjelajah kedua payudara Amel yang tergantung.

Tiga orang itu sekaligus menikmati tubuh Amel, tak bisa kubayangkan perasaan Amel saat ini. vagina, mulut, punggung, payudara, hampir seluruh bagian tubuhnya dirangsang. Kulihat Amet berejakulasi di dalam liang vagina Amel, sperma yang melimpah keluar dari pennis Amet mengalir keluar melalui liang vagina Amel, seketika itu juga Amel bergumam sembari menaikkan pinggulnya, ia berorgasme. Setelah Amet puas membasahi vagina Amel dengan spermanya, giliran Siska menggantikan posisi Amet. Dengan liar, Siska menjilati vagina Amel yang masih basah oleh sperma Amet.

Selang berapa menit kemudian Parjo berejakulasi, ia berteriak kencang memanggil nama Amel sembari memuncratkan spermanya di wajah Amel, kulihat Amel menerima semburan sperma itu di sekitar bibir dan pipinya, bahkan ia menelannya, mungkin Amel sudah pasrah dan memilih untuk menikmati kejadian ini.

Setelah Parjo, giliran Topan berejakulasi diatas punggung Amel. sperma Topan nampak membasahi kulit punggung Amel yang putih mulus. Rizal yang dari tadi diam, bergerak menggantikan Siska yang kini merubah posisi Amel menjadi terlentang, lalu memegangi tangan Amel keatas.

Penis Rizal yang ekstra besar itu menembus vagina Amel, dan dengan liar memompa tubuh Amel. Amel yang sudah sangat lelah hanya mendesah pelan sambil menikmati. Hampir 10 menit Rizal memompa penisnya didalam vagina Amel sampai akhirnya gerakan Rizal dipercepat, Amel berteriak, pinggulnya naik, tubuhnya nampak bergetar, ia kembali berorgasme. Tidak lama kemudian Rizal berejakulasi di luar vagina Amel, ia membiarkan spermanya jatuh membasahi selangkangan Amel.

Suasana sunyi hanya terdengar desah nafas Amel yang mencoba mengatur kembali nafasnya. Tubuhnya basah oleh keringat, selangkangannya dipenuhi sperma, Amel hanya tergeletak diatas meja itu. Kubayar uang yang kujanjikan pada Parjo, Rizal, Amet dan Topan. Mereka lalu pergi meninggalkan ruangan ini dengan senyum puas.

“Nah, sekarang kapok kan lo?” bentak Siska kepada Amel.

“Makanya jangan macam-macam, kalo lo bilang-bilang kejadian ini sama siapapun, rekaman video tentang lo bakal gue sebar luas!! Terus lo bisa jadi bintang porno terbaru dan terkenal, he.. he.. he.. ” ancamku pada Amel.

“Sekarang lo bilang!! Gimana rasanya tadi?! Ayo jawab!!” bentak Siska.

“Kok diem aja?! Ayo jawab tolol!!” bentakku.

“Enak Kak..” jawab Amel ketakutan.

“Enak?! lo seneng dientot?!” bentak Siska lagi.

“Iya Kak.. enak sekali.. nikmat..” Amel menjawab.

“Lo mau lagi?!” Mila yang dari tadi diam kini bicara.

“Ma..mau Kak..” jawab Amel.

Aku, Siska dan Mila saling berpandangan sambil tersenyum. Ya, akhirnya Amel kini menjadi bagian circle, geng gila seks yang suka sekali mencari kenikmatan, haus akan hal-hal berbau seks. Dan si cantik Amel, adik kelasku menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam petulangan seks ku selanjutnya.

 

 

HUBUNGANN PANAS

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *